Sabtu, 20 Desember 2008

http://i217.photobucket.com/albums/cc50/justizzentrum/therealdealanimemeagapicture-1.jpg

lihat deh foto2 aiesecer2 keren kannn......,
mo tw aq yang mana ayo cona tebakkk.....,
susah jelasinnya , liat ja sendiri ja, ciri2nya yang paling cute n manizzzzzz................

doggy

http://www.geocities.com/failure4communicate/WG50mid_a.jpgsi doggy ja masih sempat baca kok si humany malas baca...............
http://desaind.files.wordpress.com/2008/03/image043.jpgiiii goblog kali sih kok kalah, kalah lagi kalah lagii

puisi

hujan

tetesan hujan di pagi hari
sirami kalbu kalahkan embun pagi
tapi hanya satu yang mungkin terjadi
yaitu banjirrrrrr

tetesan hujan di siang hari
sirami ufuk mentari
tapi hanya satu yang mungkin terjadi
yaitu dinginnnnn

tetesan hujan di malam hari
sirami rembulan yang menyinari bumi
tapi hanya satu yang mungkin terjadi
yaitu ngantukkkkk

curhatan

PERJALANAN HARI INI

eh teman2 aiesec tw g' hari ni aq pergi jalan2 ma teman aq. ya sih hari sedikit panas tapi menyenangkan kok. kami jalan2 ke pasar raya. shopping2 gi tu loh, biasa cewek2 jaman sekarang. hobinya shopping.tapi anehnya pas pulang g' bwa apa2, kcuali keringat. truszzz... pulang deh .itu ja ya yg lainnya msh rahasia............................................

Minggu, 14 Desember 2008

puisi

kekuatan naluri

siang berganti malam
malan pun berganti siang
saat ku menyadari
itu tlah berlalu

saat ku merasa
saatku berfikir
hanya satu yang ku rasa
hanya satu yang ku pikir

itupun tak mungkin lagi
itupun tak berarti lagi
akupun menyesal
tlah tak peduli selama ini

kini kau tlah pergi
jauh dari ku
teman ku
maafkan aku

naluri ini baru sadar
naluri ini baru tahu
bahwa kau adalh teman terbaikku
bahwakau adalah sahabat karibku

maafkan naluri ini salah
mengira bahwa kau musuh ku

sekarang hanya tinggal sisa kenangan
yang mungkin kah terulang lagi
sekarang diriku merindukanmu
teman sejati ku

puisi ku

kenangan yang indah
begitu membuatku bahagia
saat ku ingat masa itu
aku pun tertawa gambira

kenangan ku kini hanya tinggal kenang
walaupun aku hanya bisa mengenang

tapi ku bahagia ku punya kengan yang indah
walu itu hanya sekejap
walau itu hanya seketika
tapi kumerasakan kenangan yang terindah

cerpen

Peradilan Rakyat

Cerpen Putu Wijaya
Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.

"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."

Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.

"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."

"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."

Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.

"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."

Pengacara tua itu meringis.
"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."
"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"
Pengacara tua itu tertawa.
"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.

"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."

Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.

"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."

"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.

Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.

Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."

Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.

"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."

"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
"Bagaimana Anda tahu?"

Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."

Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."

Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"
"Antara lain."
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
"Jadi langkahku sudah benar?"
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.

"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Bukan juga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"
Pengacara muda itu tersenyum.
"Karena aku akan membelanya."
"Supaya dia menang?"

"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."
Pengacara tua termenung.
"Apa jawabanku salah?"
Orang tua itu menggeleng.

"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."

"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."

"Tapi kamu akan menang."
"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."

"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."

Pengacara muda itu tertawa kecil.
"Itu pujian atau peringatan?"
"Pujian."
"Asal Anda jujur saja."
"Aku jujur."
"Betul?"
"Betul!"

Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"

"Bukan! Kenapa mesti takut?!"
"Mereka tidak mengancam kamu?"
"Mengacam bagaimana?"
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"

"Tidak."
Pengacara tua itu terkejut.
"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"
"Tidak."
"Wah! Itu tidak profesional!"
Pengacara muda itu tertawa.
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam.
"Bagaimana kalau dia sampai menang?"
"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"
Pengacara muda itu tak menjawab.
"Berarti ya!"
"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"

Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.

"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."
"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."

"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"

"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.

Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."

Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."

Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.

"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."
"Tapi..."

Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."

Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.

"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."

Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.

Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.

"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" ***
http://www.latech.edu/tech/orgs/animeichiban/Images/anime/one_piece.bmp

yeahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
http://fatwaman.files.wordpress.com/2008/02/onepiece_7_1024.jpgini kapalnya luffi sang bajak laut kren khannnnnnnnnn

dolpin

http://www.exzooberance.com/virtual%20zoo/they%20swim/dolphin/Spinner%20Dolphin%20314012.jpggambar ni kesukaan ku dolpin......................

pemandangan alam yang indah

http://ratona.blog.friendster.com/files/earthlikemoonsurf_johnwhatmough.jpg
lihat lah pemandangan alam ini sungguh membuat kita kagum akan keindahannya. allah huakbar.subhanallah.

curhatan

dear diary, hari ini hari yang melelahkan bw ku. dari tadi pagi aku da kegiatan sampai jam sekarang aku masih da kegiatan yang melelahkan. padahal sekarang kan hari minggu.

seharusnya hari minggukan hari untuk liburan, untuk shopping bareng teman, untuk santai2, untuk jalan2 dan refrest kembali.

tapi kenanya taannya aku sibuk ja, kayak orang super sibuk. dari senin samapi minggu selalu da kegiatan yang melelahkan. duh capekkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk.

lagu derby

aku ska sekali ma lagu derby ini. ni lihat syairnya baguskan

Gelora Asmara
oleh: derby


Datanglah... nyatakanlah cintamu
Katakan bahwa kau menginginkan diriku
Datanglah.. Bawalah bunga-bunga
Agar kau dapat membuat diriku terbang

Aku di sini duduk manis menantimu
Aku pun ingin membuat kau tak menyesal
Bahwa kau telah memilih diriku ini
Yang akan terus membuat hidupmu indah

Datanglah... nyatakan janji cinta
Yang akan kau ucapkan, itu yang terakhir, oo...
Datanglah... bawalah aku pergi
Bersama dengan semua gelora asmara

cerpen

PERANGKAP TIKUS

Sepasang suami dan isteri petani pulang kerumah setelah berbelanja.Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus memperhatikan gelagat
sambil
menggumam “hmmm…makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??”

Ternyata yang dibeli oleh petani hari adalah rerangkap tikus.
Sang tikus naik panic bukan kepalang.

Ia bergegas lari ke sarang dan bertempik, ” Ada perangkap tikus di
rumah….di rumah sekarang ada perangkap tikus….”

Ia pun mengadu kepada ayam dan berteriak, ” Ada perangkat tikus !”
Sang Ayam berkata, ” Tuan Tikus ! Aku turut bersedih tapi ia tak ada
kena-mengena dengan aku.”

Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak seperti
tadi.
Sang Kambing pun jawab selamba, “Aku pun turut bersimpati…tapi tidak
ada
yang boleh aku buat. Lagi pun tak tak ada kena-mengena dengan aku. “

Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. ” Maafkan aku. Tapi
perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali. Tak kanlah
sebesar aku
ni boleh masuk perangkap tikus. “A

Dengan rasa kecewa ia pun berlari ke hutan menemui Ular. Sang ular
berkata “
Eleh engkau ni…Perangkap Tikus yang sekecil tak kan la nak
membahayakan
aku.”

Akhirnya Sang Tikus kembali kerumah dengan pasrah kerana mengetahui ia
akan
menghadapi bahaya seorang diri.
Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara berdetak perangkap
tikusnya berbunyi menandakan umpan dah mengena. Ketika melihat
perangkap
tikusnya, ternyata seekor ular berbisa yang jadi mangsa. Buntut ular
yang
terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang isteri pemilik
rumah.

Walaupun si Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, isterinya
tidak
sempat diselamatkan.
Si suami pun membawa isterinya kerumah sakit. Beberapa hari kemudian
isterinya sudah boleh pulang namun tetap sahaja demam.

Isterinya lalu minta dibuatkan sup cakar ayam oleh suaminya kerana
percaya
sup cakar ayam boleh mengurangkan demam. Tanpa berfikir panjang si
Suami pun
dengan segera menyembelih ayamnya untuk dapat cakar buat sup.

Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman
menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya
untuk
mengambil hatinya.Masih juga isterinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya
meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Banyak sungguh orang datang melawat jenazahnya. Kerana rasa sayang
suami
pada isterinya, tak sampai hati pula dia melihat orang ramai tak dijamu
apa-apa. Tanpa berfikir panjang dia pun menyembelih sapinya untuk
memberi
makan orang-orang yang berziarah.

Dari kejauhan…Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa
hari
kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan
lagi.

SUATU HARI….KETIKA ANDA MENDENGAR SESEORANG DALAM KESUSAHAN DAN
MENGIRA
ITU BUKAN URUSAN ANDA…PIKIRKANLAH SEKALI LAGI.

Sabtu, 22 November 2008

puisi ku

asramaku
dari awal ku masuk
kukira kau kejam

asramaku
dari awalku masuk
ukira ku akan terpenjara

asramaku
dari awalku masuk
kukira kau begitu jahat

tapi kini
kurasakan
keindahan yang kutemukan

teman-teman yang begitu baik
yang selalu menemaniku

teman-teman yang ada
disaat ku membutuhkannya

asramaku
sekarang kumengagumimu

tugas kuliah

tw g', skrang gw dah mulai kuliah.n gawatnya lagi lansung ditantang dengan tugas kuliah yang begitu susah. emang sih awalnya gw pikir kuliah nyantai aja, tapi kenyataannya begitu banyak tugas yang harus gw hadapi tiap hariya. belum lagi ada magang, gw pilh magang di aiesec dan gw keterima disana.alhamdulliah sih gw senang ,tapi tantang baru yang gw rasakan seperti buat lu sekarang.padahal gw baru tw lue, dah disuruh bikin semua.